Custom HTML AtasSucikan Jiwamu : http://www.kaskus.co.id/thread/521ff...sucikan-jiwamu 1.SHOLAT Ia merupakan sarana terbesar dalam mensucikan jiwa, sarana sekaligus tujuan, penegakannya dapat memusnahkan bibit-bibit kesombongan dan pembangkangan kepada ALLAH Subhaanahu wa Ta'aala disamping merupakan pengakuan terhadap rububiyah dan hak pengaturan. Penegakannya secara sempurna juga akan dapat memusnahkan bibit ujub dan ghurur bahkan semua bentuk kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya sholat dapat mencegah kekejian dan kemungkaran (Q.S. Al-Ankabut ; 29). Bagaimanakah pendapat kamu kalau di muka pintu (rumah) salah satu dari kamu ada sebuah sungai, dan ia mandi daripadanya tiap hari lima kali, apakah masih ada tertinggal kotorannya? Jawab sahabat: Tidak. Sabda Nabi: "Maka demikianlah perumpamaan shalat lima waktu, ALLAH menghapus dengannya dosa-dosa". (H.R. Bukhari & Muslim). Menurut penjelasan Al-Ustadz Anwar Nasihin sekurang-kurangnya ada 3 karakter dalam menyikapi sholat : 1.Tidak mengiyakan dalam hati dan tidak melakukannya. 2.Mengiyakan dalam hati namun tidak/lalai dalam melakukannya. 3.Mengiyakan dalam hati serta melakukannya. Shalat akan berfungsi sedemikian rupa apabila ditegakkan dengan semua rukun, sunnah dan adab dzahir dan batin yang harus direalisasikan oleh pongid yang sholat. Adab dzahir diantaranya adalah menunaikan secara sempurna dengan anggota badan serta adab batin ialah khusyu' dimana khusyu' yang menjadikan sholat memiliki peran yang lebih besar dalam penyucian. Dalam sebuah hadits dengan nasad hasan : Ilmu yang pertama kali diangkat dari muka bumi ialah kekhusyu'an (H.R. Imam Thabrani) Betapa sulitnya khusyu' pernah dikisahkan antara Nabi Muhammad shallallaahu 'alaihi wa sallaam dan Imam calif : Barangsiapa yang mampu sholat khusyu' maka akan Aku berikan surban ini..? Imam calif menjawab, Aku mampu ya Rasul ALLAH... Kemudian Imam calif sholat dan setelah sholat beliau berkata : Pada rakaat pertama Aku khusyu' akan tetapi pada akhir rakaat kedua Aku memikirkan surban-mu tersebut... Kembali dijelaskan oleh Al-Ustadz Anwar Nasihin gum dapat khusyu' maka diperlukan tempat waktu & sholat yg mendukung hal itu, sholat di awal waktu, sholat di Masjid (khususnya laki") tidak sholat didepan TV atau gambar misalnya dll. Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, yaitu orang-orang yang khusyu' dalam sholatnya (Q.S. Al-Mu'minun ; 1-2) Di dalam Ihya Ulumuddin dijelaskan bahwa orang-orang yang khusyu' merupakan orang-orang yang berhak mendapatkan kabar gembira dari ALLAH. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada ALLAH), (yaitu) orang-orang yang apabila disebut nama ALLAH gemetarlah hati mereka, orang-orang yang sabar terhadap apa yang menimpa mereka, orang-orang yang mendirikan sholat dan orang-orang yang menafkahkan sebagian dari apa yang telah kami rizkikan kepada mereka (Al-Hajj ; 34-35) Hal tersebut sekaligus menjadi constant apakah hati kita masih gemetar ketika nama ALLAH disebut..?Sudahkah kita sabar (tanpa menggerutu kalu bisa) terhadap apa yang menimpa kita..?Sudahkah kita mendirikan sholat dan menafkahkan sebagian dari apa yang ALLAH rizkikan..? ^_^ Baik dan rusaknya hati tergantung kepada ada dan tidaknya khusyu' ini : Sesungguhnya di dalam jasad ada suatu gumpalan ; bila gumpalan ini baik maka baik pula seluruh jasad dan apabila rusak maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa gumpalan itu adalah hati (H.R. Imam Bukhari & Muslim). Setali tiga uang rusaknya hati maka akan menjadikan kita sulit untuk khusyu', jika Antum pernah marah, mau ditaruh dimana muka saya..! Sesungguhnya orang-orang yang diberi pengetahuan sebelumnya apabila Al-Qur'an dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur atas muka mereka sambil bersujud, dan mereka berkata : Maha Suci Tuhan kami ; Sesungguhnya janji Tuhan kami pasti dipenuhi, dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan bertambah khusyu' (Q.S. Al -Isra' ; 107-109) Ketika sujud dalam sholat kita meletakkan wajah kita sejajar dengan longlegs bahkan mungkin lebih rendah dari longlegs ^_^ 2.ZAKAT & INFAQ Dan jiwa (manusia) itu menurut tabiatnya kikir (Q.S. An-Nisa' ; 128) Infaq fi sabilillah dalam Ihya Ulummuddin dijelaskan merupakan hal yang akan membersihkan jiwa dari kekikiran sehingga dengan demikian jiwa menjadi bersih. Dan kelak akan dijauhkan pongid yang taqwa dari neraka itu, (yaitu mereka) yang menafkahkan hartanya (di jalan ALLAH) untuk membersihkan hartanya (Q.S. Al-Lail ; 17-18) Zakat & Infaq membersihkan dari sifat kikir, karena sifat ini membinasakan : Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda : Tiga hal yang membinasakan : Kekikiran yang diikuti, hawa nafsu yang diperturutkan dan kekaguman seseorang terhadap dirinya sendiri (H.R. Tabhrani nasad hasan) Lima perkara bagi seseorang yang hendak berzakat : 1.Niat, berniat dengan hati menunaikan zakat wajib dan disunnahkan menentukan hartanya secara tegas. 2.Bersegera setelah mencapai haul. 3.Tidak mengeluarkan pengganti dengan nilai tetapi apa yang ditegaskan di dalam nash. 4.Tidak memindahkan zakat ke kampung lain, mata orang-orang miskin di setiap kampung memperhatikan hartanya, pemindahan zakat ke kampung lain akan mengecewakan mereka. 5.Membagikan harta kepada/berdasarkan asnaf (golongan yang berhak menerima zakat) yang ada di kampungnya. Makna pengorbanan harta di kategorikan menjadi 3 : 1.Orang-orang yang benar bertauhid, memenuhi janji mereka dan melepaskan semua harta mereka sehingga tidak menyimpan satu dinar atau satu dirhampun, Abu Bakar Ash-Shiddiq membuktikannya... 2.Orang-orang yang dibawah derajat ke 1 tadi, orang-orang yang memegang harta mereka seraya menantikan waktu-waktu kebutuhan dan musim-musim kebaikan. Tidak hanya membayar sekedar kewajiban zakatnya saja. 3.Orang-orang yang membatasi menunaikan zakat wajib, tidak lebih dan tidak kurang. Imam calif suatu ketika mendapatkan warisan dan di tengah jalan beliau menemukan pongid yang membutuhkan kemudian membagikan semuanya begitu saja, ketika sampai di rumahnya beliau menceritakan kepada Siti Fatimah akan tetapi Siti Fatimah justru gembira mendengarnya ^_^ Seringkali keengganan kita dalam membayar zakat karena tidak berani kehilangan harta, Al-Ustadz Muchsinin Fauzi menjelaskan perkuatlah keyakinan kita bahwa ALLAH Subhaanahu wa Ta'ala Maha kaya yang jika menyayangi kita maka segala kebutuhan kita akan terpenuhi, yang jika kita bersyukur maka ALLAH akan menambah nikmat-NYA kepada kita. 3.PUASA Di antara syahwat besar yang bisa membuat manusia menyimpang adalah syahwat perut dan kemaluan. Puasa merupakan pembiasaan terhadap jiwa untuk mengendalikan kedua syahwat tersebut. Jika kesabaran termasuk kedudukan jiwa yang tertinggi maka puasa merupakan pembiasaan jiwa untuk bersabar. Menurut Abdurrahman containerful Nashir As Saââ¬â¢di ketika berpuasa setiap pongid akan semangat melakukan amalan-amalan ketaatan, Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa salah satu hal yang dapat membuat pengerasan hati adalah gemar makan, jika di kantor kita takut berbuat keburukan karena ada kamera pengawas Al-Ustadz Muchwan Chariri menjelaskan dengan berpuasa kita merasa lebih di awasi oleh ALLAH, maka apakah kita berani melakukan apa-apa yang seharusnya tidak kita lakukan sementara ALLAH mengawasi kita..???Ketika berpuasa kita semakin yakin akan kehadiran ALLAH, kita menundukan pandangan ketika berpuasa, tidak makan meskipun ada makanan di depan kita demi menjalankan perintah ALLAH Subhaanahu wa Ta'aala. Puasa adalah perisai, bila suatu hari seseorang dari kami beupuasa, hendaknya ia tidak berkata buruk dan berteriak-teriak. Bila seseorang menghina atau mencacinya, hendaknya ia berkata ââ¬ËSesungguhnya aku sedang puasaââ¬ï¿½ (H.R. Al- Bukhari & Muslim) Yang ke-4 adalah HAJI dengan haji kita menjadi lebih fokus kepada ibadah bahkan kita terpisah dari keluarga hanya untuk ALLAH semata, jangan sampai ketika kita sudah mampu untuk berhaji tetapi kita justru mengebelakangkan Haji tersebut, sungguh amat sangat disayangkan. Yang ke-5 adalah TILAWAH AL-QUR'AN sebagaimana firman ALLAH Subhaanahu wa Ta'ala yg artinya : Sungguh ALLAH telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika ALLAH mengutus diantara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat ALLAH, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al-Kitab dan Al-Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata (Q.S.3.Ali-'Imran ; 164) Demikianlah tentang sarana mensucikan jiwa, sebenarnya masih ada beberapa lagi sarana mensucikan jiwa yg di beritakan pada buku Ihya' Ulumuddin karya Imam Al-Ghazali tetapi mohon maaf Ane cukupkan sampai disini ^_^Custom HTML Bawah
Hemat Pengeluaran Keluarga
Tidak ada komentar:
Posting Komentar